Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Movie Reviews : 2 Orang Pengidap Kanker yang Mewujudkan Keinginan Sebelum Pergi

Ini adalah review film yang berjudul The Bucket List (2007) karya sutradara Rob Reiner. Tak banyak film inspirasional bergenre drama yang diproduksi belakangan ini. Namun, pada penghujung tahun 2007 silam rumah produksi Warner Bros. kembali merilis sebuah film bernuansa drama keluarga berbumbu sedikit humor, The Bucket List yang dibintangi oleh aktor senior Morgan Freeman dan peraih Oscar sekaligus komedian Jack Nicholson.

Sinopsis Film The Bucket List 2007


Sinopis Film The Bucket List 2007

Film ini bercerita tentang dua teman akrab walaupun belum lama bertemu, Edward Perriman Cole (Nicholson) dan Carter (Freeman). Keduanya memiliki karakter yang agak berbeda. Tuan Cole (begitu biasa dia disapa) adalah seorang kaya raya yang memiliki harta hampir di semua negara. Ia juga memiliki sebuah rumah sakit di kampung halamannya di Los Angele. 

Sedangkan Carter, adalah seorang montir tua dengan kehidupan pas-pasan. Pada awalnya kedua kakek ini tidak saling kenal karena memang latar sosial mereka berbeda. Nasib keduanya kemudian dipertemukan saat mereka sama-sama menderita kanker stadium akhir dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Tuan Cole kemudian dibawa ke rumah sakit miliknya sendiri setelah menyadari penyakitnya serius dan harus segera dioperasi. Ia selalu ditemani ditemani asistennya, Tommy (diperankan oleh Sean Hayes) yang kemudian mengingatkannya bahwa ia sebagai pemilik rumah sakit pernah mengambil kebijakan tegas bahwa setiap kamar di RS tersebut harus diisi dengan 2 tempat tidur, tanpa terkecuali. 

Padahal, idealnya ruangan VIP untuk tamu-tamu penting harus dikemas dengan sangat privat. Sekarang, ia sendiri sebagai bos RS harus menerima satu ruangan dengan Carter, yang ternyata selama ini sudah sering mengunjungi RS itu. Di ruangan RS inilah Tuan Cole dan Carter bertemu dan menjadi teman sekamar. Mereka senasib, mengidap kanker stadium akhir.

Hari-hari mereka berdua lalui di kamar itu sambil menunggu waktu operasi. Carter setiap hari dijenguk oleh istrinya, atau anaknya sambil mempelajari buku-buku sejarah, sebuah ilmu yang digelutinya, sedangkan Tuan Cole selalu dijenguk dan dilayani oleh asisten setianya Tommy. Setelah mulai akrab, Carter menyadari bahwa kehidupannya berbeda dengan kehidupan Cole yang serba mewah dan berada. 

Ia hidup dengan keluarga kecil namun hangat, sedangkan Tuan Cole hanya berkutat dengan bisnis dan kekayaannya. Ia tahu bahwa sebetulnya Tuan Cole merasa kesepian walaupun memiliki selera humor yang bagus. Mereka kemudian banyak bercerita tentang diri masing-masing hingga akhirnya mereka menyadari waktu mereka hidup tidak lama lagi.

Dengan keadaan pribadi yang berbeda namun memiliki nasib medis yang sama, Tuan Cole tidak sengaja menemukan secarik kertas tulisan tangan Carter di lantai kamar RS. Di atas kertas itu ternyata Carter menulis beberapa hal yang menjadi cita-citanya. 

Hal-hal yang ingin ia lakukan atau alami sebelum meninggal sebagaimana apa yang pernah ia dapatkan semasa kuliah dulu. Sontak saja Tuan Cole tertarik karena ia menyadari ia juga bisa turut melakukan hal-hal yang selalu ia inginkan selama ini.

Dan petualangan mereka pun dimulai. Carter memiliki ide dan kecerdasan tentang sejarah, sedangkan Tuan Cole punya uang dan segalanya.

Perjalanan mereka agak aneh karena kemudian melibatkan hal-hal konyol seperti terjun payung dan mencium wanita yang menurut mereka adalah paling cantik di dunia. Selama perjalanan Carter terus teringat keluarganya sedangkan Tuan Cole ditemani Tommy asistennya meraih kebebasannya kembali setelah stres akibat bisnis. Mereka pun saling menasihati sekaligus saling menguji kesetiaan.

Sisipan konflik kecil di bagian akhir cerita pun semakin menambah warna dan variasi alur cerita drama yang ada.

Satu yang banyak kalangan dianggap spesial bagi orang Indonesia adalah dimunculkannya visual produk khas Nusantara, Kopi Luwak dalam beberapa scene dan dibahas di beberapa dialog antara dua pemeran utama. Memang, dalam cerita ini Tuan Cole selalu membawa serta minuman favoritnya, Kopi Luwak khas Sumatra lengkap dengan set kotak alat minumnya.

Secara keseluruhan, nampaknya film ini ingin menonjolkan pesan-pesan moral dan beberapa nuansa sentimentil tentang persahabatan dua kakek sekarat dalam melakukan petualangan mereka menggapai hal-hal yang ingin diraih sebelum meninggal. 

Alur mundur yang sedikit diselipkan di awal film membuatnya semakin menarik dan artistik. Salah satu pesan yang paling berkesan dari dialog film ini adalah tujuan di saat mati nanti seseorang bisa saja mendapati matanya tertutup rapat, tapi hatinya baru saja terbuka lebar. Inilah inti dari semua petualangan film berdurasi sekitar 1 jan dan 50 menit ini.

Sumber https://www.kompasiana,com/
Admin HB
Admin HB Please Share This Article if It's Useful

Post a Comment for "Movie Reviews : 2 Orang Pengidap Kanker yang Mewujudkan Keinginan Sebelum Pergi"